ROAD RECYCLING
Road Recycling adalah termasuk salah satu dari Tekonologi Preservasi Jalan dengan memaksimalkan pemanfaatan kembali material existing pada segmen jalan yang diperbaiki. Dilihat dari sisi bagian yang diperbaiki dan pola perbaikan yang dilakukan, road recycling dibedakan menjadi dua, yaitu:
  • Hot Mixed Recycling
  • Cold Mixed Recycling
Hot Recycling
Gambar 1.
Teknologi ini digunakan untuk mendaur ulang lapis permukaan perkerasan beraspal yang rusak, yaitu lapis AC-BC maupun AC-WC sesuai kebutuhan bedasarkan design melalui proses pencampuran panas. Prinsip dasarnya adalah lapis perkerasan aspal digaruk menghasilkan material garukan disebut RAP, kemudian diproses melalui Screen Plant untuk mendapatkan size butiran RAP yang masuk wilayah suitable. Berdasarkan content yang ditentukan melalui Job Mix Design yang telah lolos uji laboratorium, RAP dicampur dengan Aspal, Filler, dan tambahan aggregate secara panas ke dalam Mixer sampai terbentuk hot mixed (campuran panas) yang homogen dan siap di gelar ke lapangan. Gambar 1 menunjukkan suitable area perbaikan permukaan jalan yang menggunakan teknologi Hot Recycling.
Cold Recylling
Gambar 2.
Cold Recycling digunakan untuk mendaur ulang lapis perkerasan pondasi jalan yang rusak melalui proses pencampuran secara dingin. Prinsip dasarnya, material existing diambil sample, dibuat perencanaan campuran (Job Mix Design) yang memenuhi uji laboratorium dengan menggunakan binding agent tertentu. Untuk pekerjaan CTRB binding agent terdiri dari semen sedang untuk pekerjaan CMRFB binding agent terdiri dari Foam Bitumen.






Dari uraian di atas dapat disimpulkan yang membedakan secara prinsip Hot Mixed Recycling dan Cold Mixed Recycling dapat diilustrasikan sebagai berikut:
  HOT MIXED RECYCLING COLD MIXED RECYLING
Penggunaan Untuk perbaikan Lapis permukaan beraspal (AC-WC dan AC-BC). Untuk perbaikan kerusakan lapis pondasi jalan (sub base) yang terdiri dari material berbutir, bukan telfort/macadam.
Proses pencampuran Panas Dingin
Pilihan Recyler yang tersedia
  • In Plant
  • In Place
  • In Plant
  • In Place
Ilustrasi di atas sekedar mengantar kita untuk mengenal Road Recycling secara umum, yang mengacu kepada manual-manual yang dikeluarkan dari Wirtgen, sebagai produsen alat recycler yang paling banyak digunakan di Indonesia bahkan di Dunia. Di Indonesia sendiri Cold Mixed Recyling lebih banyak digunakan daripada Hot Mixed Recycling yang baru menyusul penggunaan belakangan untuk perbaikan sebagaian kerusakan jalan di DKI Jakarta
Gambar 2 menunjukkan wilayah kerusakan yang suitable untuk dilakukan perbaikan menggunakan teknologi Cold Recycling. Di dalam pekerjaan Cold Recycling kita mengenal tiga kelompok besar jenis pekerjaan, yaitu:
  • Cold Milling
  • CTRB
  • CMRFB
Cold Milling
Gambar 3.
Cold Milling adalah proses penggarukan lapis permukaan jalan, alatnya disebut Cold Miling Machine (CMM). Populasi alat Cold Miling Machine di Indonesia didominasi oleh Wirtgen, walau terdapat pula alat merk lain seperti Caterpilar. Konon alat keluaran China juga mulai ada. Prinsip kerja berbagai jenis alat milling hampir sama, yaitu menggaruk aspal dan hasilnya (Cutting atau material garukan yang disebut RAP atau RAM) langsung dimuat ke Dump Truck (gambar 3) menggunakan conveyor belt sehingga hasil galian terlihat bersih dan jauh lebih rapi dibanding metode konvensional menggunakan Excavator dan Dump Truck. Produksi rata-rata menggunakan CMM Wirtgen adalah 35 - 40 M3/Jam.


Gambar 4.
Pekerjaan Cold Milling mengemuka bersamaan dengan populernya pekerjaan recycling di tanah air. Hal ini disebabkan hampir semua pekerjaan recycling pada umumnya melibatkan CMM sebagai pekerjaan pendahuluan ketika design menghendaki adanya penggarukan permukaan jalan sebelum dilakukan recycling, baik CTRB (Cement Treated Recycling Base) maupun CMRFB (Cold Mixed Recycling with Foam Bitumen).
Gambar 4 menunjukkan hasil garukan Cold Milling Machine. Kebetulan pada gambar 4 diambil pada pekerjaan di mana akan dilakukan CTRB, CMRFB , AC-BC, dan AC-WC sehingga kedalaman garukan menyesuaikan kedalaman rencana yang mencukupi untuk penggelaran lapis perekerasan tersebut.
Sesungguhnya tidak semua pekerjaan Recycling memerlukan Cold Milling Machine dan bukan hanya pekerjaan recycling yang membutuhkannya. Pekerjaan perbaikan permukaan aus beraspal yang menggunakan overlay pun menggunakan CMM untuk menggaruk permukaan aspal lama yang rusak sebelum dilakukan overlay untuk mendapatkan lapis permukaan asal yang baru. Keuntungan penggunaan CMM disamping lebih cepat, praktis kedalaman garukan lebih mudah dikontrol, karena pada CMM khususnya merk Wirtgen dilengkapi computerized instrument untuk setting kedalaman yang diprogramkan kepada alat, sehingga alat akan melakukan penggarukan berdasarkan setting kedalaman yang diinputkan kepada panel yang tersedia pada alat tersebut. Berdasarkan hasil uji coba lapangan yang selalu dilakukan sebelum memulai pekerjaan, akurasi kedalaman garukan terhadap rencana cukup dapat diandalkan dan memuaskan.
CTRB
CTRB (Cement Treated Recycling Base), CTB (Cement Treated Base), CTSB (Cement Treated Sub Base), CTRSB (Cement Treated Recycling Sub Base), serta berbagai macam sebutan lainnya, adalah teknologi perbaikan lapis pondasi jalan yang memaksimalkan penggunaan kembali material existing dengan menggunakan bahan semen sebagai binding agent. CTB dan CTSB digunakan untuk membangun lapis pondasi baru pada bagian/segmen jalan yang diperbaiki. Jenis pekerjaan ini banyak dijumpai ketika design perbaikan jalan menghendaki pelebaran jalan (widening) atau penggantian/penambahan lapis pondasi baru. Namun apapun namanya, karena unsur material yang digunakan sama, karakteristik lapis perkerasan yang dihasilkan adalah sama, sehingga perlakuan di tahap konstruksi dan pasca-konstruksi adalah sama.
CTRB berfungsi meremajakan lapis pondasi yang telah rusak dan tidak mampu memikul atau meneruskan beban secara merata kepada sub grade,sehingga berakibat rusaknya lapis perkerasan atas. Dengan dikerjakan CTRB, lapis pondasi menjadi terikat homogen dan memiliki kekuatan sempurna untuk memikul dan meneruskan beban ke struktur lapis perkerasan dibawahnya dengan merata. Penggunaan mesin Recycler yang dikendalikan secara terkomputerisasi menghasilkan konsistensi campuran standar sesuai yang direncanakan dan tingkat kesempurnaan hasilnya pun dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini sangat berbeda dengan alat yang dikendalikan secara manual. Perbedaan kemampuan operator dan pengalaman pelaksana sering memicu hasil yang tidak standar, sehingga akurasi kualitas produk yang dihasilkan pun menjadi bervariasi.
CMRFB
Cold Mixed Recycling With Foam Bitumen adalah lapis perkerasan pondasi yang dibentuk melalui penggunaan kembali material existing secara maksimal dengan Foamed Bitumen sebagai Binding Agent (bahan pengikat). Foam Bitumen (aspal buih) dihasilkan secara dari aspal panas (minimal 160° C), air dan udara yang terkompresi secara simultan sehingga terbentuk aspal buih. Sudah barang tentu aspal buih yang dapat digunakan sebagai Binding Agent harus memiliki persyaratan tertentu. Mengenai proses pembuatan Foam Bitumen akan diuraikan tersendiri. Terdapat dua cara pelaksnaan pencampuran CMRFB, yaitu:
In Place
Gambar 5.
CMRFB In Place dilakukan menggunakan mesin Recycler yang mampu melakukan pulverizing, milling, dan foaming menggunakan sistem yang terkomputerisasi. Di dalam mesin Recycler ini sudah terdapat unit yang memproduksi Foamed Bitumen, lalu mencampurnya dengan Agregate (RAP maupun RAM). Gambar 5 menunjukkan rangkaian depan alat yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan CMRFB (sementara rangkaian belakangnya terdiri dari alat compaction dan grading). Gambar di dalam inzet menunjukkan unit Recylcer yang sedang melakukan pulverizing, milling, dan foaming secara simultan. Sekarang ini ini hanya Mesin Recycler WR2500S buatan Wirtgen (Jerman) yang memproduksi alat Recycler yang mampu melakukan pekerjaan ini.


Gambar 6.
Alat ini didatangkan dan digunakan di Indonesia untuk pertama kalinya oleh PT. TINDODI KARYA LESTARI pada tahun 2007, ketika perusahan ini mendapat tugas dari Ir. Purnomo selaku Kepala BPJN IV Bina Marga untuk melaksanakan pekerjaan CMRFB di Pantura Ruas Sewo. Gambar 6 memperlihatkan bahwa alat Recycler ini cocok digunakan pada ruas jalan padat lalu- lintas seperti di Pantura dan tempat-tempat lain. Alat Recycler In Place ini dapat memangkas kegiatan Hauling, baik waktu, tempat, dan peralatan penunjangnya.


In Plant
Gambar 7.
Pencampuran RAP atau RAM dengan Foam bitumen, serta pembuatan Foam Bitumentnya, dilakukan menggunakan alat yang terpisah dari Mesin Recycler, pada area di luar lokasi pekerjaan. Material existing yang berupa bahan garukan hasil Milling Machine yang biasa disebut RAP (Reclaimed Asphalt Pavement) atau RAM (Reclaimed Aggregate Material), diangkut menggunakan Dump Truck ke area Stockpile, dan kemudian disaring untuk memperoleh ukuran tertentu sesuai yang ditentukan oleh Job Mix Formula (JMF). Untuk memenuhi tuntutan JMF, tidak jarang diperlukan tambahan aggregate baru. RAP atau RAM dan tambahan Fresh Aggregate (sesuai kebutuhan) ini dicampur dengan Foam Bitumen pada unit pencampur, kemudian diangkut menggunakan Dump Truck ke lokasi pekerjaan dan kemudian ditebarkan, lalu diproses menggunakan grader dan compactor. Gambar 7 menunjukkan area Plant pencampuran CMRFB yang terpisah dari Job Site.
Kadang-kadang, CMRFB kadang didahului oleh lapis CTRB dibawahnya. Namun tidak jarang hanya CMRFB saja atau CTRB saja. Keadaan ini sepenuhnya tergantung kebutuhan berdasarkan perencanaan yang sangat tergantung dari jenis kerusakan jalan. Dilihat dari binding agent yang digunakan, jelas CTRB yang menggunakan semen sifatnya lebih rigid dibanding CMRFB yang menggunakan aspal sebagai Binding Agent.
CMRFB dan CTRB adalah bagian dari Road Foundation Treatment, yang digunakan untuk meremajakan pondasi jalan, dengan cara mendaur ulang material jalan yang rusak. Karena terproses oleh Mesin Recycler dengan konsistensi proses dan akurasi yang tinggi, produk yang dihasilkan juga berkualitas tinggi, atau setidak-tidaknya, kualitas yang dihasilkan dapat lebih dijamin sesuai rencana daripada secara manual. Menurut beberapa penelitian yang dilakukan, perbaikan jalan menggunakan teknologi Road Recycling memiliki masa pakai lebih lama dibanding dengan cara konvensional. Teknologi ini adalah teknologi yang strategis. Pembangunan jalan yang biasanya mengeksploitasi jutaan meter kubik material batuan, yang pada akhirnya memicu tanah longsor dan bencana alam, kini, dengan teknologi ini, resiko bencana dapat dicegah. Oleh karena itu, teknologi Road Recycling perlu dikawal agar tetap menghasilkan manfaat lebih bagi pembangunan Infrastruktur Jalan di Indonesia.
© 2016 PT Tindodi Karya Lestari