TEKNOLOGI DAUR ULANG UNTUK PRESERVASI JALAN
Sudah bertahun-tahun Direktorat Jendral Binamarga dipusingkan oleh kondisi jalan yang cepat sekali mengalami kerusakan dini terutama di jalur padat terutama di jalur padat seperti Pantura. Berbagai penelitian, evaluasi serta uji coba dilakukan, sehingga pada akhirnya ditemukan salah satu teknologi daur ulang yang relative dapat diharapkan sebagai salah satu teknologi perbaikan jalan yang mampu menjawab persoalan yang dihadapi dewasa ini. Karena daur ulang yang memaksimalkan pemakaian material yang telah terpakai berhasil memangkas sequence pekerjaan luar biasa. Paling tidak kegiatan di Quarry, Crushing plant, dan hauling dengan berbagai dampaknya berhasil terhapus. Lebih-lebih apabila digunakan metoda Cold Recycling in place yang menggunakan Alat Recycler dari German jenis WR 2500 atau WR 2000, alat tersebut benar-benar mampu menyelesaikan pekerjaan selesai ditempat dengan cepat, tanpa harus melibatkan mesin pengolah lain di luar job site.
Setelah melampaui beberapa kajian baik yang dilakukan oleh Balitbang PU di Bandung dan Balai IV Binamarga di Jakarta yang melakukan uji fisik dan laboratorium di setiap pelaksanaan di lapangan, sampai saat sekarang metoda daur ulang mempunyai keunggulan-keunggulan lebih dibanding metoda konvensional dengan over lay, baik dari sisi waktu biaya dan mutu. Hal ini sangat mudah dipahami karena pada metoda recycling melakukan peremajaan mulai dari struktur pondasi bawah, sedang overlay kebanyakan selama ini hanya melakukan lapis ulang pada permukaan jalan, dan sebagaian besar persoalan utama di pondasi yang tidak lagi berfungsi baik meneruskan beban gandar ke sub grade tidak tersentuh, sehingga apabila awam banyak menilai perbaikan jalan tidak pernah berumur panjang dan harus dilakukan berulang-ulang adalah tidak salah.
Dengan segala kelebihannya yang dapat disimak akhir-akhir ini, metoda daur ulang (Recycling) pantas dinilai sebagai salah satu metoda perbaikan jalan yang cocok, karena disamping murah dan ramah lingkungan, juga mampu memberikan hasil yang memuaskan. Metoda cold recycling pertamakali diuji coba pelaksanaannya di Pantura, di ruas Sewo, yang teruji setelah dilanda banjir ternyata jalan tersebut masih utuh, sedang tidak jauh di lain lokasi mengalami rusak berat. Kejadian ini mendorong penggunaan teknologi racycling meluas pada ruas-ruas paket yang lain.
Dirjen Bina Marga A. Hermanto Dardak dalam paparannya pada forum Konfrensi Regional Dep PU Barat baru-baru ini mengatakan, salah satu program utama Departemen Pekerjaan Umun adalah preservasi (upaya mengawetkan-red) jalan yang akan menggunakan metoda Cold Recycling.
Wakil ketua Komisi V DPR-RI Taufik Kurniawan mengatakan, komisinya mendukung upaya preservasi-peningkatan jalan melalui metoda tersebut., yang berarti berpotensi menghemat anggaran 30-40 % dibanding metoda biasa. Hal ini dikemukakan setelah meninjau kegiatan preservasi sejumlah jalan nasional di kota Semarang baru-baru ini.
Direktur Pembangunan Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Dirjen Bina Mrga, Hedyanto W.Chuseini, menjawab pertanyaan LINTAS, mengatakan, penerapan teknologi recycling sangat bagus digunakan untuk penanganan kerusakan jalan yang sudah mengalami intermixing. "Bila sudah terjadi intermixing, seharusnya dilakukan perbaikan secepatnya agat tidak terjadi kerusakan yang lebih parah." Metoda perbaikan jalan yang dilakukan dengan hanya mengutamakan kehalusan permukaan tanpa memperbaiki struktur bawah (Sub Base) akan berakibat jalan yang telah diperbaiki terlalu cepat mengalami kerusakan dini, dan ujung-ujungnya pemborosan biaya. Apalagi kondisi jalan lama kita rata-rata telah mengalami pelemahan sub base.
Ke depan, kata Hedyanto untuk penanganan ruas jalan di beberapa provinsi yang padat lalu lintasnya, seperti Sumatera Utara dan Riau akan diterapkan metoda Recycling.
Sebaiknya setiap provinsi juga menggunakan metoda Cold Recycling ini, karena dengan menggunakan metoda ini material yang ada dapat digunakan kembali, sehingga menghemat anggaran. Dan nilai material yang dapat dihemat oleh metoda ini tidak sedikit, apalagi untuk sekala yang lebih luas, disamping keunggualan dari sisi tekniknya, dari hasil kajian-kajian memproyeksikan metode daur ulang ini mampu memberikan masa pelayanyan lebih panjang dari konvensional, dengan catatan apabila pelaksanaanya benar.
GENERASI TERBARU MESIN RECYCLER
Mesin yang digunakan untuk merekondisi konstruksi jalan yang rusak dengan cara mendaur ulang material yang telah terpasang pada jalan yang rusak tersebut, sementara ini mengandalkan alat buatan German merk Wirtgen WR2500S. Mesin buatan German ini disamping efektif untuk pelaksanaan Cold Recycling juga mampu digunakan untuk pekerjaan Stabilizing. Alat tersebut sudah banyak dipakai di Inggris, Skotlandia, Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, China dan tidak ketinggalan adalah India, Malaysia dan Indonesia akhir-akhir ini. Bahkan di Indonesia di era tahun 1996 an sesungguhnya telah menerapkan Hot Recycling. Hasilnya dinilai kurang maximal, karena Hot Recycling yang pernah dicoba di Indonesia waktu itu hanya berorientasi pada wearing cost, berbeda dengan Cold Recycling yang berfokus pada lapis granular base nya.
Cold Recyling in Place dengan Foam Bitumen secara garis besar proses kerjanya meliputi sebagaimana diilustrasikan pada gambar 01. Milling dan Pulverizing pada Agregate Base yang tidak lagi terikat baik satu sama lain merupakan inti kerja WR 2500 S dalam melakukan daur ulang. Dalam waktu relative bersamaan melakukan pulverizing, WR2500S menyemprotkan Foam Bitumen yang diproduksinya melalui sprying bar yang terdiri dari 16 nozzels, sebagai binding agent kepada pulverized material. Foam Bitumen dalam bentuk butiran-butiran busa tersebut menempel pada pulverized material sehingga ketika dilakukan pemadatan oleh alat pemadat dibelakangnya, susunan aggregate dari hasil pulverizing menjadi terikat satu sama lain lebih baik dan kuat sehingga membuahkan struktur sub base yang lebih homogen dan kokoh. Struktur lapis pondasi hasil recycling ini disebut CMRFB (Cold Mix Recycling with Foam Bitumen). Tebal lapis CMRFB biasa berkisar antara 20 cm – 25 cm, lapis atas ditutup dengan lapis AC-Binder kemudian diikuti yang paling akhir adalah AC-WC. Secara umum CMRFB biasa digelar diatas CTRB (Cement Treated Recycling Base) yaitu lapis Recycled aggregate base yang menggunakan material Cement sebagai Filler. Namun di dalam realita pelaksanaan, tidak selamanya CMRFB dan CTRB dimanfaatkan bersama, melainkan lebih tergantung dari kebutuhan dan perencanaan. Pada keadaan tertentu bisa CMRFB tidak dilaksanakan melainkan hanya menggunakan CTRB langsung ditutup dengan AC-BC dan AC_WC.
ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN UNTUK DAUR ULANG
Pelaksanaan daur ulang pada umumnya menggunakan rangkaian alat yang terdiri dari Water Tank, Asphalt Tank, Recycler,First Compactor , Grader dan Final Compactor. Agar menghasilkan laju gerak yang harmonis dengan recycler, Water Tank yang terdepan, diikuti Asphalt Tank dibelakangnya, kedua alat tersebut di dorong oleh Recycler yang berada dibelakang Asphalt Tank. Kecepatan laju standar recycler biasa berkisat 5 m’ per menit.
FOAM BITUMEN dan WLB 10
Foam Bitumen adalah salah satu Binding Agent (Bahan Pengikat) yang terdiri dari Asphalt panas (minimal 1600C), Air dan Udara. Foam Bitumen terjadi ketika sejumlah air dingin didespersikan pada aspal panas dengan suatu tekanan udara tinggi yang menimbulkan bertambahnya luas permukaan dan menurunnya viskositas aspal secara signifikan. Kualitas Foam Bitumen yang memenuhi syarat dapat diukur melaui 2 parameter, yaitu:
  • EXPANSION RATIO : perbandingan antara volume aspal maksimum yang dicapai pada kondisi berbuih (foamed) dan volume pada kondisi tidak berbuih (unfoamed).
  • HALF LIFE : waktu yang ditentukan pada saat volume buih mencapai setengahnya sebelum kembali pada kondisi tidak berbuih. Foam Bitumen dinyatakan berkualitas baik bila memenuhi syarat: expansion ratio min. 10 kali dan half life min 8 detik.
Untuk itu sebelum pelaksanaan di lapangan di mulai, harus diyakinkan Foam Bitumen yang akan diproduksi oleh Recycler WR.2500.S, harus diyakinkan telah memenuhi persysratan Expantion Ratio dan Half Life seperti ditentukan di atas. Sehingga perlu dilakukan perencanaan campuran foam bitumen dengan menggunakan alat uji Foam Bitumen yang disebut WLB 10, yaitu Lab mini buatan Wirtgen yang mencukupi untuk merencanakan dan menguji kualitas campuran Foam Bitumen cukup baik dan teliti.
HAL-HAL YANG TIDAK KALAH PENTING
Menurut manager pemasaran PT. Tindodi Karya Lestari Ir. Sudarno MM, sepanjang pelaksanaannya tepat guna, secara umum penggunaan Cold Recycling sangat memberikan manfaat besar bagi preservasi jalan. Betapa tidak, karena dengan teknologi daur ulang yang memaksimalkan penggunaan material bekas yang telah terpasang, akan meminimalkan kebutuhan fresh aggregate batu pecah sebagai kebutuhan pekerjaan jalan secara keseluruhan, dan tentunya akan bermuara kepada pengurangan exploitasi sumber daya alam batuan baik di gunung maupun di sungai.
Namun hati-hati, tidak serta merta setiap kerusakan jalan langsung dapat diatasi dengan recycling, tergantung penyebab kerusakan jalan itu sendiri yang harus ditemukan terlebih dahulu. Apabila induk persoalan berada di sub grade, maka perkuatan/stabilisasi sub grade mutlak harus dilakukan terlebih dahulu sebelum dilakukan recycling pada lapis struktur sub base/base–nya. Sehingga investigasi awal sebelum pelaksanaan recycling mutlak diperlukan.
Biasanya ivestigasi awal dilakukan terhadap beberapa poin sbb:
  • Tebal dan lebar perkerasan lama
  • Jenis bahan setiap lapis perkerasan
  • Jenis bahan setiap lapis perkerasan
  • Jenis bahan setiap lapis perkerasan
  • Daya dukung tanah dasar dan lapis perkerasan
  • Muka air tanah
  • Public utilities
  • Volume dan beban lalu lintas
Penggunaan Cold Recycling dengan alat buatan dari German merk Wirtgen ini telah berhasil sukses di beberapa Negara maju dan berkembang. Di Indonesia walau pernah mencoba hot recycling pada tahun 1990 an, namun untuk Cold Recycling, khususnya metoda cold recycling in place dengan menggunakan alat merk Wirtgen WR.2500.S pertama kali dicoba baru pada tahun 2007 di Pantura, yaitu oleh Balai IV Binamarga dengan kontraktor utama PT. DELTAMARGA ADYATAMA dan subkontraktor pelaksana/penyedia alat recycling pada waktu itu PT. TINDODI KARYA LESTARI. Jelas dengan kehadiran technologi Cold Recycling In Place (in situ) yang relatif muda ini, evaluasi dan kajian pelaksanaan yang benar oleh para pemangku kepentingan sangat diperlukan. Sehingga teknologi yang integrated dengan alat merk Wirtgen yang telah berhasil di mancanegara ini bisa lebih adaptable dan workable di Indonesia. Lebih lanjut Sudarno menjelaskan, untuk memberikan hasil yang maksimal, pada akhirnya disamping alat ada peranan penting yang tidak boleh diabaikan yaitu:
  • Penyiapan SDM yang terlatih sehingga familiar dengan kelakuan dan kebutuhan alat serta faham betul dengan indicator kegagalan dan keberhasilan dari produk yang dihasilkan oleh alat tersebut , sekaligus paham tindakan–tindakan yang perlu dan harus dilakukan.
  • Standardisasi manual yang dapat dijadikan pedoman pelaksanaaan dan evaluasi Cold Recycling.
Sebagai teknologi yang ramah lingkungan, maka Road Recycling pantas dikawal kehadirannya, agar tidak hanya terpakai dan berhasil baik di negeri manca Negara tapi juga harus terpakai dan berhasil baik di negeri kita, Indonesia.
© 2016 PT Tindodi Karya Lestari