TEKNOLOGI RECYCLING UNTUK REHABILITASI STRUKTUR JALAN
Solusi Efektif dan Ramah Lingkungan
Sumber: Majalah Techno Konstruksi Edisi 17 Tahun II September 2009
Satu fleet recycler sedang melakukan pekerjaan recycling.
Metoda recycling perkerasan jalan, merupakan konsep rehabilitasi struktur jalan, dengan mengoptimalkan penggunaan kembali material lama menjadi material perkerasan baru yang jauh lebih kuat. Konsep yang juga dikenal dengan 'New Roads from Old' ini, selain lebih ekonomis juga ramah lingkungan, sehingga cocok diaplikasikan untuk rekonstruksi jalan di tanah air.
Struktur perkerasan jalan, sejak dipergunakan sebagai jalur lalu lintas akan mulai mengalami proses kerusakan, baik secara perlahan maupun progresif. Kerusakan yang sering terjadi, antara lain: fatigue, rutting, permanent deformation, serta kerusakan perkerasan permukaan (surface defects), seperti retak (cracking), perubahan bentuk (distortion), cacat permukaan (disintegration), pengausan (skid hazards) dan lainnya.
Teknologi recycling merupakan salah satu pelaksanaan dari kebijakan "green construction".
Jika konstruksi jalan terdeteksi mengalami kerusakan tersebut, maka perlu segera dilakukan penanganan atau preservasi, agar kerusakan-kerusakan tersebut tidak semakin parah dan dapat meningkatkan kualitas layanan bagi pengguna jalan, khususnya dari segi keamanan maupun kenyamanan.
Selama ini, penanganan yang dilakukan untuk perbaikan atau rehabilitasi kerusakan jalan tersebut, dilakukan dengan metode yang telah diterapkan sejak dulu, seperti:patching plus overlay dengan leveling (AC/BC) + AC/WC, atau dengan cold milling plus overlay dengan ATB + AC/BC + AC/WC, rising grade (dengan seleksi material atau aggregat klas B/A) + ATB + AC/BC +AC/WC. Selain itu, juga digunakan metode rigid pavement di atas perkerasan jalan, atau digunakan metode rekonstruksi lainnya. Namun, hasilnya dirasakan kurang efektif dan membutuhkan biaya yang sangat besar.
Dalam rangka mencari solusi penanganan kerusakan jalan yang efektif, ekonomis dan ramah lingkungan, pihak-pihak terkait terus berupaya mencari metode yang cocok, dengan menerapkan berbagai teknologi yang efektif untuk mengantisipasi kerusakan jalan tersebut.
Dari berbagai ujicoba yang dilakukan, salah satu metode penanganan kerusakan jalan yang cocok, adalah dengan merekonstruksi lapis pondasi base dan subbase, dengan teknologi recycling, baik dengan metode campuran beraspal dingin dengan foam bitumen (CMRFB Base), daur ulang dengan penambahan semen atau Cement Treated Recycling Base (CTRB), daur ulang tanah dengan semen atau Cement Treated Soil Base (CTSB), Cement Treated Base (CTB) dan lainnya. Metode tersebut, digunakan untuk meremajakan lapis pondasi, sehingga material lebih kedap dan memiliki kelenturan serta kekuatan yang lebih baik.
Penerapan teknologi recycling ini, dinilai cukup tepat digunakan untuk penanganan kerusakan jalan di Indonesia. Karena, selain memiliki beberapa kelebihan, struktur jalan yang ada juga memiliki karakteristik kerusakan yang cocok untuk dilakukan perbaikan dengan menggunakan teknologi ini. Karena itulah, setelah melalui serangkaian ujicoba dan evaluasi, sejak tahun 2008 teknologi recycling, khususnya CTRB dan CMRFB Base mulai diterapkan di beberapa ruas di jalan Pantura Jawa.
Willys B. Eng. Mech.
Ir. Sudarno, MM.
Menurut Dirjen Bina Marga—Hermanto Dardak, teknologi recycling merupakan salah satu pelaksanaan dari kebijakan 'green construction' Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum. Untuk itu, pengembangan teknologi recycling perkerasanan jalan sebagai faktor sustainability secara lingkungan, investasi dan komitmen bisnis jasa konstruksi, akan terus didorong untuk dikembangkan di masa mendatang.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV— Ir. Purnomo menyatakan, penerapan teknologi recycling dinilai cukup tepat digunakan untuk penanganan kerusakan jalan, khususnya di jalur Pantura. Karena, selain memiliki beberapa kelebihan, jalur Pantura juga memiliki karakteristik kerusakan yang cocok untuk dilakukan penanganan dengan teknologi ini.
Adapun keuntungan dari penerapan teknologi recycling, antara lain: mampu memanfaatkan seoptimal mungkin material perkerasan lama sehingga tidak dibutuhkan material baru dalam jumlah banyak, ramah Lingkungan, mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh transportasi material buangan maupun material baru, menghindari gangguan lalulintas akibat transportasi buangan dan material baru, kecepatan konstruksi yang lebih tinggi, trafficability & traffic management dan lebih kompetitif dalam hal biaya.
Ketebalan lapis pondasi base dan subbase siap direcycling.
Dengan Foam Bitumen
Pelaksanaan teknologi recycling dengan metode foam bitumen (CMRFB Base), umumnya dilakukan dengan metode in place (pendaurulangan dan penghamparan dilakukan langsung di lapangan). Konsep teknologi recycling dengan metode CMRFB Base, merupakan metode daur ulang lapis aspal lama melalui penggarukan (cold milling) dicampur dengan menggunakan foam bitumen (2-3%) dan semen (1-2%).
Busa (foamed) aspal terjadi, ketika dispersi air dan udara dengan tekanan tertentu bertemu dengan aspal panas yang menimbulkan bertambah luasnya permukaan dan menurunnya viskositas aspal. Busa akan menempel pada butiran-butiran agregat halus yang mengelilingi butiran besar. Butiran butiran halus yang diselimuti aspal tersebut, kemudian dipadatkan sedemikian rupa, sehingga butiran-butiran tersebut dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang kompak mengelilingi butiran besar.
Pekerjaan pengerukan perkerasan dengan Cold Milling Machine.
Secara umum, pelaksanaan daur ulang campuran beraspal dingin lapis pondasi dengan Foam Bitumen dapat memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang ditetapkan, jika Indirect Tensile Strength (ITS) ditetapkan minimal 300 kPa, Tensile Strength Retained (TSR) disyaratkan minimal 80 persen, Unconfined Compresive Strength (UCS) disyaratkan minimal 700 kPa. Kondisi tersebut akan mudah dicapai, jika aspal yang digunakan adalah Pen 80/ 100 dan dibutuhkan pemadatan minimal 20 ton (statis), serta filler lebih dari 15 persen.
Ekonomis dan ramah lingkungan
Dalam aplikasinya, teknologi recycling yang diterapkan dalam preservasi dan rehabilitasi kerusakan jalan yang terjadi saat ini, ternyata cukup menghemat, baik dari segi biaya maupun 'kebenaran teknis'. Penerapan teknologi ini, juga dapat menghemat penggunaan material, lebih ramah lingkungan dan secara teknis hasilnya cukup baik, sehingga dapat dikembangkan untuk perbaikan ruas-ruas jalan lainnya.
Willys B, Eng. Mech., Direktur PT Tindodi Karya Lestari mengatakan, sebagai pihak yang memberikan support teknologi untuk penerapan metode CTRB dan CMRFB Base di berbagai pekerjaan perbaikan jalan selama ini, secara umum penerapan teknologi recycling, khususnya metode CTRB dan CMRFB Base, dapat memberikan beberapa manfaat. Lapis aspal existing, merupakan sumber material yang sangat berharga. Dengan teknologi recycling ini, Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) hasil cold milling yang mengandung bahan pengikat, dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan lapis perkerasan. Sehingga, selain ekonomis, juga lebih ramah lingkungan.
Proses pemadatan dengan vibrator aktif dan dilakukan penambahan kadar air.
Dengan demikian, ujar Willys, teknologi ini diharapkan bisa dijadikan pilihan yang tepat, untuk mengatasi makin langkanya sumber material alam dan kebutuhan untuk mendapatkan lapis pondasi yang memiliki nilai struktur tinggi. Selain itu, teknologi ini dirasakan juga tepat digunakan oleh kontraktor sebagai pelaksana pekerjaan konstruksi jalan, seiring dengan diberlakukannya Performance Base Contract (PBC) oleh pemerintah dalam waktu dekat. Karena, teknologi ini selain bisa dijadikan solusi yang tepat dalam penanganan kerusakan jalan, hasilnya juga lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, menurut Ir. Sudarno, MM—Manager Pemasaran PT Tondodi Karya Lestari, untuk menghasilkan pekerjaan recycling berkualitas, tidak bisaterlepas dari empat unsur utama, yaitu: pertimbangan awal memililh Recycling sebagai metoda rekonstruksi jalan, kesiapan dan kesesuaian alat Recycler yang digunakan, standar kualitas yang ingin dicapai, serta SDM Pelaksana dan Pengawas.
Proses mixing dengan Cold Recycling Machine.
Lebih lanjut dijelaskan Sudarno, sebelum menentukan pilihan menggunakan metoda recycling, investigasi kondisi existing jalan perlu dilakukan dengan cermat, untuk mengetahui antara lain: ketebalan dan jenis lapis perkerasan existing, tingkat kerusakan struktur, ketinggian muka air tanah dan public utility yang terpasang di bawah permukaan jalan.
Dengan memamahami kondisi existing dan typical penyebab kerusakan jalan dengan tepat, sangat membantu menentukan pilihan metoda perbaikan jalan dengan benar. Karena, tidak semua kerusakan jalan dapat diatasi dengan recycling. Seperti kondisi existing base yang menggunakan telfort/macadam, geosintetis, lean concrete, public utility dengan kedalaman kurang dari 20 cm dan sejenis, penggunaan recycling tidak direkomendasikan.
Pemadatan dengan Smooth Drum Vibratory Roller.
Mengenai kesiapan dan kesesuaian alat recycler. jelas Sudarno. untuk berkinerja tinggi memerlukan perawatan memadai. Semakin tinggi teknologi alat, semakin perawatan tidak bisa dilakukan sembarangan, untuk menjamin mutu yang dihasilkan. Sedangkan mengenai standar kualitas harus jelas dan measurable. Sehingga, Quality Plan yang disepakati dan diketahui antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa, disamping sebagai pedoman pelaksanaan akan mudah digunakan sebagai referensi untuk mengukur proses dan pencapaian kualitas yang diharapkan. Dan peran SDM sangat penting, disamping mengoperasikan alat secara benar juga dapat memelihara alat dengan benar. Sehingga, disamping memberikan hasil yang kualitas, umur efektif alat juga menjadi lebih panjang dan pay back period bisa lebih panjang dari yang perhitungkan.
PT Tindodi Karya Lestari, yang selama ini menjadi leader di bidang teknologi recycling di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir telah berhasil menyelesaikan beberapa paket pekerjaan recycling, antara lain: Paket Jatibarang-Palimanan, Paket Eretan Kulon-Lohbener III, Paket Sewo-Pamanukan, Paket Cirebon-Losari, Paket Pejagan-Losari, Proyek Penanganan Mendesak Boyolali-Kartosuro, Paket Karawang-Cikampek-Pamanukan, Paket Cibadak-Sukabumi-Cianjur, Paket Lohbener-Jatibarang, Paket Pemalang-Tegal, Paket Batang-Weleri, Paket Lingkar Weleri, Paker Karang Ampel Seksi I & II, Paket Trans Yogie Cileungsi dan lainnya.
Alat uji foam bitumen WLB 10.
Dari seluruh paket pekerjaan recycling tersebut, sejak tahun 2007 hingga 2009 tercatat telah berhasil menyelesaikan pekerjaan recycling struktur jalan sepanjang 162,2 km, dengan rincian: pekerjaan dengan metode CTRB sepanjang 30,9 km, CMRFB Base sepanjang 53,1 km, CTB sepanjang 63,9 km dan CTSB sepanjang 14,3 km. Pekerjaan CTSB diterapkan pada konstruksi jalan baru atau pelebaran jalan eksisting (widening) dan hasilnya juga cukup baik.
Merupakan prestasi yang cukup baik, mengingat paket pekerjaan recycling pada seluruh pekerjaan preservasi jalan hanya berkisar 30%-40%-nya. Dengan pencapaian volume yang cukup signifikan tersebut, jelas Sudarno, membuat manajemen waktu dan pemeliharaan alat yang dilakukan PT Tindodi Karya Lestari menjadi semakin ketat. Dengan kemampuan sumber daya manusia dan 2 unit fleet recycler yang dimiliki, dalam skala proyek mampu berproduksi dengan kecepatan rata-rata 500-700 meter per hari.
Kondisi jalan setelah dilakukan rehabilitasi dengan teknologi recycling.
Ditanya mengenai kiat pelaksanaan pekerjaan menjelang lebaran, Sudarno menjelaskan, jangan membiarkan pekerjaan terbengkalai sehingga mengganggu pelayanan jalan. Keadaan ini tidak boleh terjadi, khususnya menjelang hari H-10, karena akan mengundang persoalan-persoalan tidak sederhana. Untuk itu, faktor trafficability harus diperhatikan. Pekerjaan harus selesai atau minimal dapat dilalui tanpa gangguan berarti saat arus lebaran. Blla berdasarkan kapasitas real kemampuan kerja maksimal tidak dapat selesai di H-10, lebih baik pe-kerjaan dikerjakan setelah lebaran.[pt]
© 2016 PT Tindodi Karya Lestari