PEREMAJAAN JALAN PEMUDA PRAMUKA DENGAN TEKNOLOGI RECYCLING CMRFB
Pertama Diterapkan di Jakarta dari Dana APBD
Sumber: Majalah Techno Konstruksi Edisi 81 Tahun VII September 2015
Pelaksanaan proyek "Peremajaan Jalan dengan Metode teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB di Jalan Pemuda-Pramuka" yang dikerjakan pada malam hari.
Pada tahun 2014, Dinas Pekerjaan Umum Propinsi DKI Jakarta mulai melakukan peningkatan jalan dengan memanfaatkan inovasi teknologi yang ramah lingkungan (green construction) dengan metode recycling, melalui program 'Pembangunan Peningkatan Jalan dan Jembatan, Pekerjaan Peremajaan Jalan dengan Metode Teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB', yang bersumber dari dana APBD 2014.
Berdasarkan sejarah perkerasan jalan, terdapat berbagai jenis konstruksi perkerasan jalan yang keberadaannya hingga kini terus berkembang. Salah satunya, adalah perkerasan lentur atau flexible pavement yang menggunakan material pelapis aspal. Jenis perkerasan ini, ketika mulai dipergunakan sebagai jalur lalu lintas, baik secara perlahan maupun progresif, strukturnya akan mengalami proses kerusakan. Adapun kerusakan yang sering terjadi pada perkerasan jalan ini, antara lain: fatigue, rutting, permanent deformation, serta kerusakan perkerasan permukaan atau surface defects, seperti retak (cracking), perubahan bentuk (distortion), cacat permukaan (disintegration), pengausan (skid hazards) dan lainnya.
Ir, Heru Panatas, MM.
Willys B, Eng. Mech.

Ir. Sudarno, MM.

Ir. Gatut Soeprijadi.
Togap Simanjuntak.
Apabila konstruksi jalan beraspal telah terdeteksi mengalami kerusakan tersebut, maka perlu segera dilakukan penanganan atau preservasi, agar kerusakan-kerusakan tersebut tidak semakin parah dan dapat meningkatkan kualitas layanan bagi pengguna jalan, khususnya dari segi keamanan maupun kenyamanan. Hal itulah, yang kini dilakukan
oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk senantiasa menjaga kondisi jalan-jalan di Ibukota, agartetap mantap.stabil dan dalam kondisi baik.
Cold Recycle Machine sedang melakukan pekerjaan recycling di ruas Jalan Pemuda.
Menurut Kepala Bidang Jalan Dinas Pekerjaan Umum Propinsi DKI Jakarta—Ir. Heru Panatas, MM, selama ini penanganan kerusakan jalan di DKI Jakarta, hanya dilakukan dengan menggunakan metode yang telah diterapkan sejak dulu, seperti: patching plus overlay dengan leveling AC/BC dan AC/WC, cold milling plus overlay dengan ATB + AC/BC + AC/WC, rising grade dengan seleksi material atau aggregat klas B/A + ATB + AC/BC + AC/WC. Selain itu, juga digunakan metode rigid pavement atau betonisasi di atas perkerasan jalan, atau metode rekonstruksi lainnya. Penanganan kerusakan jalan dengan penambahan lapisan yang selama ini diterapkan, selain akan menambah elevasi ketinggian permukaan jalan, juga kurang efisien dan tidak ramah lingkungan, karena selalu menggunakan material baru dalam pelaksanaannya.
Karena itu, lanjut Heru, seiring dengan perkembangan teknologi di bidang pekerjaan jalan, pada tahun 2014 lalu, untuk peningkatan dan rehabilitasi jalan-jalan di DKI Jakarta, mulai diarahkan dengan memanfaatkan inovasi teknologi yang ramah lingkungan (green construction), yang salah satunya dengan menerapkan teknologi daur ulang dengan metode Cold Mixing Recycling by Foamed Bitumen (CMRFB).
"Metoda recycling perkerasan jalan dengan teknologi CMRFB, merupakan konsep rehabilitasi struktur jalan, dengan mengoptimalkan penggunaan kembali material lama menjadi material perkerasan baru yang jauh lebih kuat. Konsep yang juga dikenal dengan 'New Roads from Old' ini, selain lebih ekonomis juga ramah lingkungan, sehingga cocok diaplikasikan untuk rekonstruksi jalan-jalan di Ibukota," ungkap Heru.
Pengupasan lapisan permukaan perkerasan jalan dengan Cold Milling Machine.


Pertimbangan penerapan teknologi CMRFB tersebut, menurut Heru, selain lebih 'green' dan untuk mempertahankan elevasi permukaan jalan, juga untuk merekonstruksi pondasi jalan [base). Karena, berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap kerusakan konstruksi jalan di DKI Jakarta, ternyata kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan atas saja. Tetapi, pada bagian pondasi atau base-nya juga banyak yang mengalami kerusakan, seperti: pelapukan, intermixing dan lainnya. Sehingga, kondisi tersebut perlu dilakukan perbaikan atau rekonstruksi secara menyeluruh, untuk meningkatkan ketahanan dan mencapai umur rencananya.
Selain itu, pemilihan metode recycling foam bitumen (CMRFB) ini, juga didasari oleh kecepatan waktu pelaksanaan agar bisa segera open traffic, mengingat jalan-jalan di Jakarta sangat sibuk dan rawan kemacetan. "Dengan menerapkan metode daur ulang CMFRB ini, jika pengerjaannya dilakukan pada malam hari, maka pada pagi harinya sudah bisa dilakukan open traffic. Sehingga, tidak mengganggu arus lalu lintas dan menghindarkan dari kemacetan. Juga, dalam pelaksanaan pekerjaan ini tidak perlu dilakukan penutupan jalur, sebagaimana dalam yang dilakukan dalam pelaksanaan perkerasan rigid," ujar Heru.
Pertama di Jakarta dari dana APBD
Pada tahun 2014, Dinas Pekerjaan Umum Propinsi DKI Jakarta mulai melakukan peningkatan jalan dengan menerapkan teknologi recycling, melalui program 'Pembangunan Peningkatan Jalan dan Jembatan, Pekerjaan Peremajaan Jalan dengan Metode Teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB', yang bersumber dari dana APBD 2014.
Proses mixing semen dan foam bitumen, dengan menggunakan Cold Recycler Machine.
Menurut Heru, untuk anggaran proyek recycling jalan pada tahun 2014 tersebut, dialokasikan pada dua ruas jalan. Pertama, adalah Peningkatan Jalan Pemuda-Pramuka, melalui proyek 'Pembangunan Peningkatan Jalan dan Jembatan, Pekerjaan Peremajaan Jalan dengan Metode Teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB di Jalan Pemuda-Pramuka' dengan anggaran sebesar Rp 80 milyar. Rinciannya, adalah: untuk pelaksanaan pekerjaan recycling CMRFB sebesar Rp 30 milyar, perbaikan jalur busway Rp 15 . milyar dan untuk jalur-jalur pendukung (trotoar, drainase dan lainnya) sebesar Rp 15 milyar. Kedua, adalah Peningkatan Ruas Jalan Tomang-Caringin, dengan anggaran sebesar Rp 30 milyar. "Karena terdapat kendala di Unit Layanan Pengadaan (ULP), maka untuk proyek recycling pada ruas jalan Tomang-Caringin belum bisa dilaksanakan di tahun 2014, dan kemungkinan akan dilanjutkan pada tahun 2015 ini," ungkap Heru.
Untuk pelaksanaan proyek recycling di Jalan Pemuda-Pramuka sepanjang 7 km, dipercayakan kepada PT Tindodi Karya Lestari, salah satu penyedia jasa di
bidang terkait yang cukup memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pelaksanaan pekerjaan recycling CMRFB melalui e-catalogue berdasarkan kontrak payung yang ditanda tangani antara PT.Tindodi Karya Lestari dengan LKPP
"Jika penerapan metode recycling ini berhasil, maka pada tahun anggaran 2015 ini, akan dikembangkan untuk penanganan dan peremajaan pada ruas-ruas jalan di Jakarta lainnya, seperti: ruas jalan Letjen Suprapto (Cempaka Putih) hingga jalan Perintis Kemerdekaan (Pulo Gadung) sepanjang 6-8 km, Jalan Ahmad Yani, Jalan Panjang Kebon Jeruk dan beberapa ruas jalan lainnya," ujar Heru.
Penambahan dan penghamparan material semen.
Selain penerapan teknologi daur ulang CMRFB dalam program peningkatan jalan di Jakarta, pada tahun 2015 ini kemungkinan juga akan dikembangkan teknologi Cement Treated Base (CTB). Menurut Heru, pada tahun 2014 lalu, teknologi ini juga sudah diterapkan di salah satu ruas jalan di kawasan 'Kota Tua' sepanjang kurang lebih 300 m. Dan hasilnya, cukup memuaskan dan mampu mengantisipasi kemacetan. Karena, penerapan teknologi ini memang tidak diperlukan penutupan jalur dan bisa langsung open traffic, sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas.
Karena pelaksanaan proyek recycling ini masih tergolong baru di lingkungan Dinas PU DKI Jakarta, Heru mengakui masih banyak kendala dalam pelaksanaannya. Mulai dari proses lelang di ULP yang mengalami keterlambatan,
hingga kendala teknis dalam pelaksanaan di lapangan. Untuk itu, ke depan akan terus dilakukan perbaikan, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan lancar, sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Terkait kendala yang terjadi di ULR terang Heru yang juga Ketua LPJKD DKI Jakarta, pada tahun 2015 ini LKPP telah memberikan persetujuan kepada Dinas PU DKI Jakarta, untuk melakukan pembelian atau kontrak langsung dengan penyedia jasa (vendor) yang telah berkontrak payung atau tayang di e-cataloque, sehingga pelaksanaan tender proyek recycling ke depan bisa berlangsung cepat, tanpa terkendala di ULP sebagaimana yang terjadi pada tahun 2014.
Proses lelang elektronik
PT Tindodi Karya Lestari, merupakan penyedia jasa pertama yang ditunjuk untuk menangani pekerjaan peningkatan jalan dengan teknologi daur ulang CMRFB di lingkungan Dinas PU DKI Jakarta. MenuruJ Ir. Sudarno, MM—Manager Pemasaran PT Tindodi Karya Lestari, penunjukan PT Tindodi Karya Lestari dalam proyek 'Pembangunan Peningkatan Jalan dan Jembatan, Pekerjaan Peremajaan Jalan dengan Metode Teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB di Jalan Pemuda-Pramuka' ini, dimulai dari keterikatannya dalam kontrak payung dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah (LKPP), yang kemudian produk Road Recycling PT Tindodi Karya Lestari ditayangkan secara elektronik pada e-cataloque. Kontrak payung yang memuat mengenai spek pekerjaan, material dan harga produk, khusus untuk wilayah DKI Jakarta tersebut, berlaku selama enam bulan, sejak mulai tayang dan akan ditinjau dan disesuaikan kembali setelah masa tersebut.
Proses pemadatan dengan sheep foot roller setelah proses mixing foam bitumen.
Selanjutnya, jelas Sudarno, PT Tindodi melalui Unit Layanan Pengadaan (ULP) diundang oleh Dinas PU DKI Jakarta, untuk dilakukan negosiasi dan klarifikasi pekerjaan recycling proyek peningkatan jalan tersebut melalui e-mail. Setelah memenuhi persyaratan, selanjutnya ULP menetapkan PT Tindodi bisa berkontrak langsung dengan Dinas PU DKI Jakarta untuk proyek tersebut. 'Jadi, selain kontrak payung dengan LKPP tersebut, ada subkontrak lagi dengan user secara langsung, yakni dengan Dinas PU DKI Jakarta sebagai pengguna jasa," ujar Sudarno, seraya mengatakan, bahwa proses penetapan melalui e-catalogue untuk pekerjaan recycling ini, merupakan yang pertama kali bagi PT Tindodi.
"Jadi, pada saat mendapatkan kontrak payung untuk pekerjaan recycling ini belum ditetapkan proyek mana yang akan dikerjakan. Baru, setelah itu Dinas PU DKI Jakarta menetapkan ruas jalan Pemuda-Pramuka sepanjang 7 km untuk dilakukan pekerjaan recycling untuk peningkatan ruas jalan tersebut," terang Sudarno.
Pelaksanaan proyek
Mengenai pelaksanaan proyek 'Peremajaan Jalan dengan Metode Teknologi Daur Ulang Aspal Recycling CMRFB di Jalan Pemuda-Pramuka' ini, sebagaimana diungkapkan Ir. Gatut Soeprijadi—Manager Operasi PT Tindodi Karya Lestari, sesuai kontrak pihaknya harus menyelesaikan proyek ini dalam waktu 55 hari kalender, yang dimulai pada tanggal 22 Oktober 2014 hingga 15 Desember 2014.Namun, waktu pelaksanaan fisik baru bisa dimulai pada tanggal 5 November 2014, karena banyak persiapan lapangan, sosialisasi dan koordinasi dengan instansi yang terkait management traffic.
Kondisi Jalan Pemudah yang tengah dilakukan pekerjaan recycling dengan metode CMRFB.
"Begitu Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) turun pada tanggal 22 Oktober 2014, maka langsung dimulai kegiatan, seperti: survei pendahuluan, sosialisasi kepada masyarakat dan pihak terkait (Dishub dan Polantas) untuk management traffic. Dan setelah semuanya siap, maka langsung dilakukan mobilisasi alat, termasuk mencari lahan parkir untuk penempatan unit alat yang jumlahnya cukup banyak. Selanjutnya, setelah semuanya beres, maka pada tanggal 4 November 2014 (malam) mulai mobilisasi dan pada tanggal 5 November 2014 (malam) mulai pelaksanaan pekerjaan recycling (CMRFB-Base)," jelas Gatut.
Dalam pelaksanaan pekerjaan recycling ini, ungkap Gatut, karena ruas jalan yang akan di-recycling lalu lintasnya cukup padat dan rawan kemacetan, maka PT Tindodi hanya diberikan izin waktu pelaksanaan di lapangan pada malam hari, dengan corridor time mulai dari pukul 22.00 hingga pukul 05.00.Sejak pukul 20.00 sudah dilakukan persiapan management traffic pada setiap harinya.
Adapun untuk spesifikasi pekerjaan recycling (CMRFB-Base) Jalan Pemuda Pramuka ini, adalah:. panjang penanganan ruas jalan 7 km (2 jalur, 3-4 lajur dua arah, tidak termasuk jalur busway) dengan luas permukaan total 85.000 m2. Lebar masing-masing jalur bervariasi, mulai dari 9,5 m -14 m. Mengenai pelaksanaannya di lapangan, diawali dengan
pengerjaan satu jalur dari arah Pulogadung menuju ke Jalan Pramuka, dengan mengerahkan 3 fleer Recycle Machine (2 fleer dioperasikan dan 1 fleet cadangan), yang masing-masing bekerja secara terpisah di tempat yang berbeda. Setelah selesai pelaksanaan pekerjaan pada jalur tersebut, berikutnya pindah ke jalur arah berlawanan dari jalan Pramuka
menuju Pulogadung, begitu seterusnya hingga selesai. Saat pelaksanaan pekerjaan recycling (CMRFB-Base), arus lalu lintas diarahkan ke jalur busway.
Core drill untuk mengetahui ketebalan lapisan daur ulang CMRFB.
Ketebalan core drill 30 cm.


Hasil core drill setebal 30 cm.


Dalam pelaksanaan pekerjaan recycling (CMRFB-Base) ini, Dinas PU DKI Jakarta juga memberikan acuan, bahwa finished grade level CMRFB-Base adalah minus 4 cm dari top elevasi permukaan jalur busway sebagai pedoman pelaksanaan proyek, sebab CMRFB-Base ini dimaksudkan sebagai kbnstruksi pondasi jalan. Di atas permukaan CMRFB-Base ini selanjutnya akan dilakukan pelapisan hotmix (AC-WC) tebal 4 cm, pelapisan hotmix ini dilakukan oleh kontraktor lain. Kendala pelaksanaan untuk menurunkan kondisi jalan beraspal eksisting ini harus menggunakan alat lainnya, yaitu Cold Milling Machine. "Namun, item untuk pekerjaan pemotongan menggunakan alat Cold Milling Machine ini belum masuk dalam kontrak. Tetapi, karena PT Tindodi harus tetap melaksanakan pemotongan perkerasan jalan beraspal eksisting, maka tetap kami laksanakan, meskipun terjadi penambahan biaya pelaksanaan. Ini, merupakan salah satu kendala dan resiko yang kami alami pada proyek ini," ungkap Gatut.
Adapun mengenai spesifikasi teknis pekerjaan recycling (CMRFB-Base) ini, sesuai gambar kontrak adalah: tebal daur ulang foam bitumen (CMRFB-Base) 30 cm, dengan luasan total 85.000 m2. Untuk percepatan pelaksanaan pekerjaan tersebut, diturunkan 3 fleet alat recycler dan untuk masing-masing fleet terdiri dari 7 unit alat berat, dengan kapasitas produksi rata-rata 750 m2 per jam per fleet. Atau, jika dioperasikan semua maka akan dicapai produksi 2250 m2 per jam untuk 3 fleer, sehingga diharapkan penyelesaian pekerjaan masih dalam koridor waktu kontrak.
Mengenai metode pelaksanaan recycling (CMRFB-Base) di proyek ini, jelas Gatut, tidak berbeda dengan yang diterapkan pada proyek-proyek sejenis sebelumnya. Pelaksanaan teknologi recycling (CMRFB-Base) dengan metode foam bitumen ini, dilakukan in place (pulverizing, mixing, placing dan compacting dilakukan langsung di lapangan). Prinsip kerjanya, melakukan pulverizing jalan beraspal eksisting material lapis aspal lama, kemudian dilakukan pencampuran (mixing) dengan menggunakan foam bitumen (2-3 persen) dan tambahan semen (1-2 persen).
Hasil pekerjaan recycling dengan teknologi CMRFB di Jalan Pemuda-Pramuka.
Busa (foamed) aspal akan terjadi, ketika dispersi air dan udara dengan tekanan tertentu bertemu aspal panas yang menimbulkan bertambah luasnya permukaan dan menurunnya viskositas aspal. Busa akan menempel pada butiran-butiran agregat halus yang mengelilingi butiran besar. Butiran butiran halus yang diselimuti aspal tersebut, kemudian dipadatkan sedemikian rupa, sehingga butiran-butiran tersebut dapat menyatu menjadi satu kesatuan yang kompak mengelilingi butiran besar, yang selanjutnya disebut CMRFB-Base.
Dengan menerapkan manajemen proyek di lapangan dan pengalaman yang dimiliki, PT Tindodi Karya Lestari dapat menyelesaikan proyek ini dengan lebih cepat, yakni pada H-1 dari tanggal yang ditetapkan pada kontrak, tepatnya pada tanggal 14 Desember 2015. Adapun serah terima langsung dilakukan pada tanggal 15 Desember 2014.
Ekonomis dan ramah lingkungan
Berdasarkan pengalaman selama ini, teknologi recycling yang diterapkan untuk preservasi dan rehabilitasi kerusakan jalan, ternyata cukup menghemat dari segi biaya. Penerapan teknologi ini, juga dapat menghemat penggunaan material, lebih ramah lingkungan dan secara teknis hasilnya cukup baik, sehingga dapat dikembangkan untuk peningkatan jalan di perkotaan, seperti yang kini diterapkan di DKI Jakarta.
Terkait hal tersebut, Willys B, Eng. Mech., Direktur PT Tindodi Karya Lestari mengatakan, sebagai pihak yang selama ini telah memberikan support teknologi terhadap penerapan metode daur ulang CMRFB dan CTRB Base di berbagai pekerjaan perbaikan dan peningkatan jalan, secara umum penerapan teknologi recycling ini cukup banyak memberikan manfaat. Antara lain, mampu memanfaatkan seoptimal mungkin material perkerasan lama, sehingga tidak dibutuhkan material baru dalam jumlah banyak. Selain itu, juga lebih ramah lingkungan, karena sesuai prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Dan, dari segi kecepatan konstruksi cukup tinggi, serta lebih kompetitif dalam hal biaya.
Dengan demikian, ujar Willys, teknologi ini diharapkan bisa dijadikan pilihan yang tepat untuk antisipasi makin langkanya sumber material alam dan kebutuhan untuk mendapatkan lapis pondasi yang memiliki nilai struktur tinggi. Juga, teknologi ini selain bisa dijadikan sebagai solusi yang tepat dalam penanganan kerusakan jalan, hasilnya juga lebih baik, lebih cepat dan bisa dipertanggungjawabkan.[pt]
© 2016 PT Tindodi Karya Lestari